Balita 2 Tahun Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, Keluarga: Ia Sakit Gara-gara Kedinginan
LambeTurahNews - Di tengah dinginnya malam di Bukit Puta, seorang balita bernama Mario Calviano Guru harus menyerah pada kondisi yang jauh dari layak. Anak berusia dua tahun asal Nagekeo ini meninggal dunia pada Kamis (20/8/2026), setelah sebelumnya bertahan di posko pengungsian pascagempa Flores.
Kondisi Pengungsian yang Serba Terbatas
Afik, relawan sekaligus warga setempat, membenarkan kabar duka ini. Menurutnya, Calviano adalah salah satu anak yang bertahan bersama keluarganya di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.
Selama berada di sana, kondisi kesehatannya terus menurun. Minimnya persediaan selimut membuat sebagian besar warga Desa Marapokot harus bertahan menghadapi dinginnya malam, situasi yang makin diperparah dengan krisis air bersih.
"Anak ini jatuh sakit, sempat dirawat, tapi akhirnya meninggal dunia," kata Afik.
Sempat Dirujuk ke Dua Rumah Sakit
Sebelum meninggal, Calviano sempat dilarikan ke RS Aeramo, lalu dirujuk ke RS Bajawa karena demam tinggi. Menurut keluarga, demamnya menyebabkan tubuhnya kaku dan mengalami kejang.
Jack, salah satu anggota keluarga korban, menyampaikan bahwa Calviano sebelumnya dalam kondisi sehat. "Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ujarnya.
Keluarga Mendesak Bantuan Segera
Jack mendesak pemerintah untuk segera bertindak menangani kondisi para pengungsi yang saat ini masih bertahan tanpa tenda maupun fasilitas memadai.
"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun. Ia jatuh sakit hanya karena kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbicara dengan duka yang mendalam atas kepergian keponakan saya ini," pungkasnya.
Menurut relawan Posko Askar Kauny, situasi ini bukan kasus tunggal. Masih ada banyak penyintas lain yang harus bertahan menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya di tengah trauma gempa susulan yang terus terjadi.
Kepergian Calviano menjadi pengingat mendesak bahwa kebutuhan dasar seperti selimut, tenda, dan kelambu bukan sekadar pelengkap di lokasi pengungsian, melainkan penentu hidup dan mati, terutama bagi anak-anak yang paling rentan menghadapi cuaca ekstrem pascabencana.
Tag Terkait