Gunung Ili Lewotolok Kembali Erupsi, Letusan Terkuat Capai 600 Meter di Atas Puncak
LambeturahNews - Gunung Api Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami serangkaian erupsi dalam 48 jam terakhir.
Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok tercatat beberapa kali sejak Sabtu (5/9/2026). Letusan terkuat terjadi pada Minggu (6/9/2026) pagi dengan kolom abu mencapai 600 meter di atas puncak.
Erupsi tersebut terjadi pada pukul 06.41 WITA. Kolom abu berwarna kelabu tebal teramati bergerak condong ke arah tenggara.
Berdasarkan hasil pemantauan, kolom abu mencapai ketinggian sekitar 600 meter di atas puncak atau setara dengan 2.023 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas tersebut juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 40 milimeter dan durasi erupsi selama 82 detik.
Kembali Erupsi 30 Menit Sebelumnya
Sebelum letusan terkuat tersebut, Gunung Ili Lewotolok juga mengalami erupsi pada pukul 06.11 WITA.
Erupsi yang terjadi sekitar 30 menit sebelumnya itu menghasilkan kolom abu setinggi 400 meter di atas puncak. Abu vulkanik berwarna kelabu tebal teramati bergerak ke arah barat.
Erupsi tersebut berlangsung selama sekitar 40 detik.
Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok juga terjadi sehari sebelumnya. Pada Sabtu (5/9), tercatat dua kali erupsi pada pagi hari.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 06.51 WITA dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak.
Selanjutnya, pada pukul 07.02 WITA, gunung kembali mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi 400 meter di atas puncak.
Kedua erupsi pada Sabtu tersebut menghasilkan abu vulkanik yang bergerak ke arah barat.
Aktivitas Vulkanik Masih Berlangsung
Petugas Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok, Khairul Imam Tarmizi, menyampaikan perkembangan aktivitas tersebut dalam laporan tertulis kepada awak media pada Minggu pagi.
Menurut Khairul, erupsi terjadi berulang dengan intensitas yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat aktivitas Gunung Ili Lewotolok masih perlu mendapat pemantauan secara ketat.
“Erupsi terjadi berulang kali dengan intensitas yang bervariasi,” tulis Khairul dalam laporan resminya, Minggu (6/9/2026).
Ia menjelaskan kolom abu yang muncul selama aktivitas erupsi terlihat cukup jelas dari Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan ketebalan yang cukup padat dan terlihat jelas dari pos pemantauan. Aktivitas vulkanik masih berlangsung dan perlu dipantau secara ketat.”
Pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik serta potensi bahaya yang dapat muncul di sekitar gunung api tersebut.
Warga dan Wisatawan Dilarang Mendekat
Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi menyusul aktivitas erupsi Gunung Ili Lewotolok.
Masyarakat dan wisatawan diminta tidak memasuki kawasan sekitar gunung dalam radius dua kilometer dari kawah.
Selain itu, larangan berlaku hingga radius tiga kilometer pada sektor selatan dan tenggara Gunung Ili Lewotolok.
Pembatasan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu di sekitar kawah dan sejumlah sektor gunung.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan informasi dari petugas pemantauan maupun pemerintah daerah terkait perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Waspadai Guguran Lava hingga Awan Panas
Khairul juga meminta masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi bahaya vulkanik.
Bahaya yang perlu diantisipasi antara lain guguran lava, longsoran dan awan panas, terutama pada sektor selatan, tenggara, barat dan timur laut.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung juga diminta memperhatikan arah sebaran abu vulkanik.
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan dan mata.
Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan masker serta pelindung mata ketika abu vulkanik berada di sekitar permukiman atau lokasi aktivitas warga.
Penampungan Air Diminta Ditutup
Selain melindungi saluran pernapasan dan mata, masyarakat juga diminta menjaga sumber air bersih dari paparan abu vulkanik.
Penampungan air bersih perlu ditutup agar abu tidak masuk dan mencemari air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Langkah tersebut penting terutama bagi warga yang berada di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik.
Pemerintah daerah juga diminta terus memantau kondisi di lapangan serta memberikan informasi kepada masyarakat apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik.
Masyarakat Diminta Ikuti Informasi Resmi
Badan Geologi dan PVMBG mengingatkan masyarakat untuk mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Ili Lewotolok melalui sumber informasi resmi.
Pemerintah daerah dan masyarakat juga diminta menjaga koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok yang berada di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape.
Koordinasi tersebut diperlukan agar informasi mengenai aktivitas gunung api dapat tersampaikan dengan cepat kepada masyarakat.
Dengan aktivitas erupsi yang masih berlangsung, masyarakat dan wisatawan diminta tidak memasuki kawasan yang masuk dalam radius rekomendasi keselamatan.
Petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Ili Lewotolok untuk mengantisipasi potensi bahaya lanjutan.
Tag Terkait