Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Siap Terbang, Kantongi Izin FAA
LambeTurahNews - Industri penerbangan ramah lingkungan memasuki babak baru. Pesawat listrik terbesar di dunia besutan Heart Aerospace, X1, resmi mengantongi izin untuk melakukan uji terbang dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA).
Persetujuan tersebut diberikan setelah FAA menerbitkan Special Airworthiness Certificate in the Experimental Category (SAC-EC) usai melakukan inspeksi terhadap demonstrator pesawat di Bandara Internasional Plattsburgh, New York.
Sertifikat itu membuka jalan bagi perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat, untuk memulai penerbangan perdana X1. Sebelum memperoleh izin, Heart Aerospace telah bekerja sama dengan FAA selama lebih dari satu tahun dan menyelesaikan berbagai pengujian di darat guna memastikan kesiapan sistem pesawat.
"Mendapatkan otorisasi penerbangan FAA membawa program X1 ke ambang penerbangan perdana," ujar Pendiri dan CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, seperti dikutip dari Robb Report.
Ia mengatakan pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses rekayasa dan pengujian yang panjang, serta kolaborasi erat dengan regulator penerbangan Amerika Serikat.
"Pencapaian ini mencerminkan kerja keras tim rekayasa dan uji terbang Heart, serta hubungan kerja sama erat yang telah kami bangun dengan FAA," katanya.
Bakal Pecahkan Rekor Pesawat Listrik Terbesar
X1 diproyeksikan menjadi pesawat listrik terbesar yang pernah mengudara. Pesawat ini memiliki bentang sayap sepanjang 32 meter, panjang badan 23 meter, serta bobot lepas landas lebih dari 11,3 ton.
Rekor sebelumnya dipegang oleh pesawat Cessna Caravan 208B yang dimodifikasi menjadi bertenaga listrik dan melakukan penerbangan di Negara Bagian Washington pada 2020.
Heart Aerospace merancang X1 sebagai laboratorium terbang untuk menguji berbagai teknologi yang nantinya diterapkan pada pesawat produksi massal ES-30.
ES-30 Siap Angkut 30 Penumpang
Model produksi ES-30 dikembangkan sebagai pesawat regional hybrid-electric berkapasitas hingga 30 penumpang. Pesawat ini menggunakan kombinasi dua motor listrik dan dua mesin turboprop sehingga dapat beroperasi dengan tenaga baterai, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), maupun gabungan keduanya.
Teknologi tersebut diklaim mampu menekan biaya operasional maskapai sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.
ES-30 memiliki jangkauan terbang hingga 800 kilometer dalam mode hibrida dan sekitar 200 kilometer menggunakan tenaga listrik murni.
Selain itu, baterainya dapat terisi penuh dalam waktu sekitar 30 menit dan pesawat mampu beroperasi di landasan pacu sepanjang 1.100 meter.
Heart Aerospace menargetkan proses sertifikasi dan operasional komersial ES-30 rampung pada 2031. Seluruh pengembangan tersebut akan bergantung pada hasil uji terbang X1 yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat di New York.
"Dengan sertifikat yang telah kami pegang, fokus penuh kami kini tertuju pada penerbangan. Kami siap menerbangkan X1 ke udara," tegas Forslund.
Saat ini, tim Heart Aerospace tengah menyelesaikan persiapan akhir sebelum pesawat listrik terbesar di dunia itu menjalani penerbangan perdananya dalam beberapa hari ke depan.
Tag Terkait