Lambe Turah Lambe Turah
News

Bali Menyumbang Devisa Terbesar, Tapi Diperlakukan Seperti Anak Tiri Republik Ini ?

Giostanovlatto
Bali Menyumbang Devisa Terbesar, Tapi Diperlakukan Seperti Anak Tiri Republik Ini ?

LambeTurahNews - Ada ironi yang jarang diucapkan terang-terangan oleh pejabat Bali. Dr. Yoga Iswara, anggota Kelompok Ahli Gubernur Bali bidang Pariwisata sekaligus Wakil Ketua Umum IHGMA, mengatakannya langsung kepada Lambe Turah tanpa basa-basi.

Bali, katanya, hanya diperlakukan sebagai objek oleh pemerintah pusat. Bukan subjek.

Yang membuat pernyataan ini terasa lebih tajam, Wakil Menteri yang mengurus sektor ini justru orang Bali sendiri. Lalu ke mana perginya suara itu ketika sampai di meja kebijakan?

Pembangunan yang Mengikuti Panggung, Bukan Kebutuhan

Menurut Yoga, pembangunan infrastruktur di Bali selama ini punya pola yang gampang dibaca. Sifatnya sporadis, dan lebih banyak lahir karena ada agenda internasional yang harus terlihat mulus di mata dunia.

Underpass dibangun karena ada gelaran akbar di Nusa Dua. Jalan tol dikebut karena ada tamu negara yang harus melintas mulus.

"Bukan berarti ini tidak penting," kata Yoga. Tapi persoalan yang sesungguhnya mendesak, seperti pengelolaan sampah, sudah diteriakkan Bali sejak lama, dan baru direspons setelah krisis benar-benar memuncak, itu pun dengan solusi seadanya bernama waste to energy yang datang belasan tahun terlambat.

Di sinilah letak masalah yang sebenarnya. Bali tidak pernah kekurangan masalah yang harus diselesaikan lebih dulu. Yang terjadi adalah masalah itu kalah gengsi dibanding proyek yang bisa difoto untuk konferensi pers internasional.

Penyumbang Devisa Terbesar, Insentif Nyaris Nol

Yoga tidak segan menyebut angka yang selama ini jadi kebanggaan nasional, sekaligus jadi bukti ketimpangan. Bali adalah penyumbang devisa terbesar bagi negara ini.

Tapi ketika ditanya soal insentif balik untuk daerah yang menyumbang devisa sebesar itu, jawabannya nyaris kosong.

"Insentif yang diberikan untuk daerah yang memberikan devisa tersebut masih belum ada," ujarnya. Kalimat ini pendek, tapi menampar.

Bandingkan dengan logika bisnis paling dasar. Daerah yang menghasilkan paling banyak biasanya mendapat perhatian paling besar. Di Bali, logika itu justru terbalik, semakin besar kontribusinya, semakin sunyi dukungan yang datang.

Tim Lambe Turah Mewawancarai Yoga Iswara

Berita Terkait