Bukan Dukun, Ini Sosok di Balik RJL 5 yang Bikin Horor Indonesia Naik Kelas
LambeTurahNews - Selama ini, siapa pun yang berani ngomongin horor di depan kamera selalu kena stigma yang sama: pasti indigo, pasti dukun, pasti "punya kelebihan". Tapi satu sosok ini berhasil mematahkan semua stereotip itu, dan buktinya ada di atas kertas: gelar S2 Antropologi Universitas Indonesia, lulus cumlaude dengan IPK 3,89.
Dialah Fajar Aditya, Founder RJL 5, kanal yang mengubah cara orang Indonesia mengonsumsi konten horor.
Ketika Horor Bertemu Ilmu Antropologi
Kalau kebanyakan konten horor berhenti di jump scare dan cerita mistis, RJL 5 melangkah lebih jauh. Fajar membawa pendekatan yang jarang ditemukan di industri ini: horor sebagai jendela untuk memahami budaya, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang sesungguhnya.
"Banyak yang berpikir kalau orang yang membahas horor harus paranormal, dukun, klenik, atau indigo. Padahal tidak harus begitu. Pengalaman horor bisa kita lihat sebagai sebuah fenomena kepercayaan dalam budaya masyarakat."
Bukan cuma teori — ini pendekatan yang benar-benar dijalankan dalam setiap konten RJL 5. Satu cerita horor bisa berkembang jadi obrolan tentang ekonomi sebuah desa, potensi wisata tersembunyi, sampai produk-produk lokal yang layak dikenal lebih luas.
"Setelah membahas kepercayaan, kita bisa masuk ke kehidupan sosial dan ekonomi di sebuah desa. Bahkan, dari sana kita juga bisa memperkenalkan wisata serta produk-produk yang dihasilkan oleh desa tersebut."
Otentik, Bukan Skenario
Yang membedakan RJL 5 dari kanal horor kebanyakan: setiap cerita disampaikan apa adanya dari narasumber asli, bukan naskah karangan yang dikemas seolah pengalaman nyata. Prinsip inilah yang membuat RJL 5 dipercaya jutaan penonton — bukan sekadar "seram-seraman", tapi cerita yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dari Bangku Kuliah UI ke Puncak Konten Horor Nasional
Perjalanan Fajar dimulai dari S1 Administrasi Negara UI, lalu berlanjut ke S2 Antropologi di kampus yang sama. Ia juga penulis novel Hilang Dalam Dekapan Semeru, yang sukses menyandang status best seller.
Tapi jalan menuju kesuksesan RJL 5 tak selalu mulus. Fajar kerap dicap sebagai dukun atau paranormal hanya karena sering membahas fenomena horor. Alih-alih mundur, stigma itu justru jadi bahan bakar untuk membuktikan pendekatan berbeda, horor sebagai fenomena budaya yang layak dipelajari secara akademis, bukan sekadar mistis belaka.
Hasilnya? Pada 2025, Fajar dinobatkan sebagai Top Podcast Horor Indonesia versi YouTube dan RCTI, sebuah pengakuan yang membuktikan pendekatannya berhasil menembus hati penonton Indonesia.