Dijanjikan Rp9 Juta Sebulan, 3 Remaja Malah Terjebak Eksploitasi Seks di Bali
Laporan: Destarita Rahmawati
LambeTurahBali - Tawaran penghasilan Rp9 juta sebulan terdengar seperti kesempatan besar bagi tiga remaja dari luar Bali. Namun, yang mereka temukan di Pulau Dewata justru jauh dari bayangan tentang pekerjaan dan penghasilan cepat.
RM (17), ST (17), dan TS (18) tiba di Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur pada Selasa (11/8/2026), setelah sebelumnya dirujuk dari Dinas Sosial PPPA Provinsi Bali untuk mendapatkan pendampingan dan dipulangkan ke daerah asal.
Ketiganya datang ke Bali setelah tergiur janji seorang mucikari yang menawarkan penghasilan hingga Rp9 juta per bulan. Namun, pekerjaan yang mereka jalani kemudian menempatkan mereka dalam situasi eksploitasi seksual.
Yang membuat ceritanya semakin berat, dua dari tiga korban masih berusia 17 tahun.
Baru Dua Hari, Sudah Diamankan
Ketiganya disebut baru menjalani pekerjaan tersebut selama dua hari ketika aparat melakukan penggerebekan.
Di tengah situasi itu, sang mucikari disebut tidak mau bertanggung jawab. Mereka bahkan mendapat ancaman agar memberikan keterangan yang tidak benar kepada pihak berwajib.
Namun ketiganya memilih berkata jujur.
Alasannya sederhana. Mereka ingin pulang.
Mereka juga menyampaikan keinginan untuk kembali ke sekolah dan menjalani kehidupan seperti remaja seusianya.
Di sinilah cerita ini menjadi lebih dari sekadar kasus penggerebekan. Tawaran penghasilan Rp9 juta ternyata membawa tiga anak muda ke situasi yang sama sekali berbeda dari apa yang mereka bayangkan ketika berangkat ke Bali.

Pulang Bukan Berarti Ceritanya Selesai
Setelah dirujuk ke Dinsos Jatim, ketiganya mendapat tempat berlindung sementara sekaligus pemenuhan kebutuhan dasar.
Melalui program Sahabat Pulang Dinsos Jatim, mereka kemudian tiba di Dinsos Tangerang pada Kamis (13/8/2026).
Dari sana, ketiganya dipulangkan ke kediaman masing-masing.
Kini mereka kembali ke lingkungan asal dengan satu keinginan yang terdengar sederhana: sekolah lagi dan kembali menjalani hidup sebagai remaja.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana tawaran penghasilan instan bisa menjadi pintu masuk menuju eksploitasi, terutama ketika korbannya masih sangat muda.
Dan bagi tiga remaja tersebut, perjalanan ke Bali yang awalnya dibayangkan sebagai jalan cepat menuju penghasilan justru berakhir dengan perjalanan pulang yang jauh lebih berat.
Tag Terkait