Gempa M7,7 Guncang Manggarai, Warga Reo Ngungsi, 2 Korban Diduga Meninggal
LambeTurahNews - Kepanikan melanda warga Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Guncangan kuat membuat warga berhamburan keluar rumah dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Sejumlah warga bahkan meninggalkan rumah tanpa sempat membawa harta benda karena khawatir terjadi tsunami maupun gempa susulan.
Berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Episentrum berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Namun, BMKG kemudian menyatakan potensi tsunami akibat gempa tersebut telah berakhir.
Warga Berhamburan, Tak Sempat Selamatkan Harta Benda
Situasi panik juga dirasakan warga Kampung Niu, Reo. Arina (48), salah seorang warga yang kini berada di lokasi pengungsian, mengatakan masyarakat langsung berlari meninggalkan rumah ketika merasakan guncangan hebat.
Menurut dia, warga berpencar mencari tempat yang dianggap lebih aman. Sebagian naik ke kawasan yang lebih tinggi, sementara lainnya menuju sekolah dan lapangan.
“Iya, berpencar, ada yang naik gunung, ada yang naik sekolah. Apa di lapangan tuh, di lapangan sekolah tuh,” cerita Arina saat berada di pengungsian.
Ia menyebut warga tidak sempat memikirkan harta benda ketika gempa terjadi. Sebagian besar hanya menyelamatkan diri dengan pakaian yang sedang dikenakan.
“Tak kepikiran warga mengangkut harta bendanya. Hanya baju yang di badan yang dibawa keluar rumah,” ujarnya.
Arina juga menyebut sekitar 10 rumah di kampungnya mengalami kerusakan parah. Namun, jumlah tersebut masih merupakan laporan awal dari warga dan perlu pendataan lebih lanjut oleh petugas terkait.
Dua Warga Disebut Meninggal, Masih Perlu Konfirmasi
Di tengah situasi tersebut, Arina mengatakan dirinya mendapat informasi adanya warga yang meninggal dunia setelah tertimbun bangunan.
“Yang saya tahu, di kampung saya, ada 2 orang yang meninggal dunia karena tertimbun bangunan. Itu baru di kampung saya, belum tahu di kampung lain seperti apa,” ujarnya.
Informasi mengenai dua korban meninggal tersebut belum dapat dipastikan sebagai data resmi dan masih membutuhkan verifikasi dari BPBD, Basarnas, kepolisian maupun pemerintah setempat.
Sementara itu, warga yang berada di pengungsian memilih belum kembali ke rumah masing-masing. Kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan membuat mereka bertahan di tempat pengungsian.
“Kami diam disini dulu. Takut ada gempa susulan,” terang Arina.
Suasana pengungsian tampak dipenuhi perempuan, bayi dan anak-anak. Sementara sejumlah laki-laki masih berupaya membantu proses pencarian dan pertolongan terhadap warga yang diduga masih berada di dalam bangunan terdampak.
Warga mengamankan diri menggunakan tenda sederhana sambil menunggu situasi dinyatakan aman.
Ketua RT Laporkan Kondisi Rumah Warga kepada Presiden Prabowo
Kondisi kerusakan juga disampaikan M Kasim Ahmad (48), Ketua RT 11, RW 3, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai.
Dalam keterangannya, Kasim memperlihatkan kondisi rumah warga yang terdampak guncangan gempa. Ia menyebut gempa terasa sangat kuat hingga menyebabkan bangunan warga mengalami kerusakan.
“Selamat pagi, saya sebagai ketua RT di RT 11, RW 3, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ini rumah yang terdampak guncangan gempa bumi yang terjadi sekitar pukul 5.30 tadi subuh. Ini adalah rumah warga yang terdampak. Kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo, beginilah kondisi dan keadaan masyarakat yang terdampak gempa bumi yang paling dahsyat. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, proses pendataan kerusakan dan dampak gempa masih berlangsung. Informasi mengenai jumlah korban, rumah rusak serta bangunan yang roboh masih perlu menunggu pemutakhiran dari pihak berwenang.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD dan pemerintah daerah serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Peringatan dini tsunami akibat gempa M7,7 tersebut saat ini telah dinyatakan berakhir.
Laporan : Destarita Rahmawati
Tag Terkait