Hari Damai Aceh Ricuh, Massa Kejar Aparat Usai Bendera Bulan Bintang Dilarang
Bukan Soal Bendera Saja
Di sinilah letak konteks yang sering hilang dari kericuhan seperti ini. Larangan mengibarkan bendera bulan bintang bukan sekadar soal simbol, tapi menyentuh langsung memori kolektif sebagian masyarakat Aceh soal identitas dan sejarah panjang mereka.
Ketika larangan itu dijawab dengan tembakan peringatan, yang terluka bukan cuma fisik, tapi juga rasa yang sudah lama coba dijaga lewat kata "damai."
Seorang saksi mata yang mengaku bernama Banta menceritakan detik-detik menegangkan itu.
"Suara tembakan membuat massa yang berada di halaman masjid langsung tiarap," katanya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi, dan meminta para pejabat memastikan kesejahteraan benar-benar dirasakan seluruh masyarakat Aceh, bukan sekelompok orang saja.
"Jangan sampai damai hanya dirasakan oleh sekelompok orang. Ketika warga Aceh benar-benar sejahtera secara keseluruhan, pejabat benar-benar bekerja untuk warga, ekonomi dan kesehatan masyarakat terjamin, saya rasa damai itu bisa terus terawat," ujarnya.
Damai yang Masih Harus Dirawat
Peringatan Hari Damai Aceh tahun ini justru jadi pengingat bahwa kata "damai" tidak pernah selesai begitu saja setelah ditandatangani bertahun-tahun lalu.
Ia harus terus dirawat, dijaga, dan yang lebih penting, dirasakan secara nyata oleh semua pihak, bukan cuma jadi seremoni tahunan di halaman masjid.
Tag Terkait