Imam Tantowi, Sineas di Balik Tukang Bubur Naik Haji, Meninggal Dunia di Usia 80
LambeTurahNews - Nama Imam Tantowi mungkin tidak selalu jadi yang pertama disebut saat orang bicara soal film Indonesia. Tapi karya-karyanya, dari layar lebar sampai sinetron yang tayang bertahun-tahun, sudah lebih dulu jadi bagian dari ingatan banyak orang.
Sineas senior ini berpulang pada Jumat petang, 21 Agustus 2026, di usia 80 tahun. Kabar duka ini disampaikan Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe, lewat rekaman suara yang diterima di Jakarta.
Kabar Duka yang Datang Lewat Rekaman Suara
"Telah berpulang, meninggal dunia, Bapak Imam Tantowi. Beliau adalah sutradara besar kita, berpulang pada sore ini di usia 80 tahun," kata Evry, Jumat malam.
Menurut Evry, jenazah Imam Tantowi kini disemayamkan di rumah duka kawasan Karawaci, Tangerang, Banten. Ia juga menyampaikan penghormatan terakhirnya, berharap karya-karya mendiang bisa terus jadi pembelajaran bagi generasi sineas muda.
"Saya pribadi mengucapkan selamat jalan, Mas Imam. Semoga karya-karyamu menjadi pembelajaran untuk sineas-sineas muda dan menjadi amal di dunia dan akhirat," ujarnya.
Ucapan Belasungkawa Mengalir dari FFI dan DKJ
Kabar duka ini juga disampaikan lewat unggahan Instagram resmi Festival Film Indonesia (FFI) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dua institusi yang selama ini erat kaitannya dengan perjalanan karier Imam Tantowi.
"Festival Film Indonesia turut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian H. Imam Tantowi, 13 Agustus 1946 - 21 Agustus 2026. Terima kasih atas segala dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan. Semoga setiap kebaikan dan karya yang ditinggalkan menjadi amal yang terus mengalir," tulis akun FFI.
Sementara DKJ menyoroti kontribusinya yang sudah diakui lewat penghargaan tertinggi di industri perfilman. "Sosok penulis dan sutradara ini telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan perfilman Indonesia. Atas kiprahnya, ia meraih Lifetime Achievement pada Festival Film Indonesia (FFI) 2024. Selamat jalan H. Imam Tantowi. Karya dan jejakmu akan selalu dikenang."
Dari Panggung Sandiwara ke Kursi Sutradara
Imam Tantowi lahir di Tegal pada 13 Agustus 1946. Perjalanan kariernya justru dimulai bukan dari film, melainkan dari panggung teater sandiwara sejak tahun 1960-an.
Baru di tahun 1970-an, ia mulai terjun ke dunia perfilman, tapi tidak langsung sebagai sutradara. Ia lebih dulu berperan sebagai penata artistik dan penulis skenario, sebelum akhirnya mengambil kursi sutradara pertamanya pada 1982.
Rentang perjalanan ini penting untuk dipahami. Butuh lebih dari satu dekade baginya berpindah dari panggung sandiwara ke posisi di balik kamera, sebuah proses yang justru memperkaya kepekaannya dalam bercerita lewat berbagai medium.
Deretan Penghargaan yang Membuktikan Konsistensinya
Sejumlah karyanya seperti Lebak Membara, Carok, Si Badung, dan Soerabaia 45 membawanya meraih berbagai nominasi dan penghargaan bergengsi.
Ia berhasil menyabet Piala Citra untuk penulis cerita asli terbaik lewat film Si Badung di ajang FFI 1989, lalu kembali membawa pulang Piala Citra untuk sutradara terbaik lewat Soerabaia 45 pada FFI 1991.
Dua kemenangan dalam kategori berbeda ini menunjukkan sesuatu yang jarang dimiliki sineas lain, kemampuannya kuat baik sebagai penulis cerita maupun sebagai sutradara, dua peran yang biasanya jadi kekuatan terpisah bagi kebanyakan orang di industri film.
Kepergian Imam Tantowi menyisakan warisan panjang bagi perfilman Indonesia, mulai dari film layar lebar era 1980-an sampai tayangan yang melekat di ingatan jutaan penonton televisi bertahun-tahun kemudian. Selamat jalan, Bapak Sineas.
Tag Terkait