Cemburu Sesekali Itu Sehat, Tapi Kalau Sudah Begini, Itu Tanda Bahaya
LambeTurahBali - Ada satu momen di hampir setiap hubungan, saat pasangan balas chat orang lain lebih cepat dari biasanya balas chat kita, dan hati langsung nggak karuan.
Wajar. Tapi ternyata, garis antara cemburu yang sehat dan yang berbahaya itu tipis banget, dan banyak orang nggak sadar sudah kelewat batas.
Cemburu Itu Sinyal, Bukan Cuma Emosi Sesaat
Menurut Verywell Mind, cemburu dalam hubungan sebenarnya adalah reaksi terhadap sesuatu yang dianggap mengancam, baik itu kejadian nyata maupun cuma dugaan di kepala sendiri.
Biasanya dipicu kekhawatiran bahwa ada orang atau hal lain yang mencoba merebut perhatian pasangan. Masalahnya, cemburu jarang datang sendirian. Ia sering menyeret marah, cemas, bahkan rasa memandang rendah pasangan sekaligus.
Terapis hubungan sekaligus CEO Cypress Wellness Center, Katie Schubert, PhD, menegaskan bahwa cemburu itu wajar, terutama di hubungan baru atau saat hubungan sedang melewati fase transisi.
"Cemburu dalam hubungan adalah hal yang cukup wajar, terutama dalam hubungan baru atau jika hubungan tersebut sedang mengalami perubahan," kata Schubert.
Yang menarik, Schubert juga mengingatkan satu hal penting, cemburu tidak akan hilang kalau cuma diabaikan. Ia butuh kesadaran dan penanganan yang jelas, karena akarnya ada jauh di dalam diri seseorang.
Cemburu Sehat, Justru Bikin Hubungan Makin Kuat
Di sinilah letak insight yang sering luput dipahami banyak orang. Cemburu tidak selalu jadi tanda hubungan bermasalah.
Kalau intensitasnya ringan dan cuma muncul sesekali, cemburu justru bisa jadi pengingat halus buat pasangan supaya tidak saling mengabaikan. Ia bisa memicu apresiasi, bahkan memperkuat rasa sayang.
Ciri paling jelas dari cemburu sehat, pasangan mau membicarakan keresahan itu secara rasional, lalu bareng-bareng cari solusinya. Bukan diam-diam curiga, apalagi langsung menuduh.
Cemburu Tidak Sehat, Awal Mula Hubungan Toksik
Nah, ini bagian yang harus diwaspadai. Cemburu tidak sehat biasanya muncul dengan intensitas tinggi dan cenderung tidak rasional.
Sering kali ini justru jadi tanda peringatan paling awal dari hubungan yang mengarah ke toksik. Rasa cemas akan ditolak atau takut ditinggalkan bisa membuat seseorang merasa kewalahan, sampai akhirnya mencoba mengendalikan pasangan lewat manipulasi.
Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari manipulasi finansial, perundungan verbal, sampai yang paling parah, kekerasan fisik.
Masalahnya, saat seseorang terjebak dalam cemburu jenis ini, emosi yang muncul bukan cuma cemas. Ada ketakutan, kesedihan, keraguan, rasa kasihan pada diri sendiri, bahkan perasaan gagal yang menumpuk jadi satu.
Kalau Dibiarkan, Semua Aspek Hubungan Kena Dampaknya
Schubert mengingatkan, kalau cemburu tidak dikelola dengan sehat, hampir seluruh aspek hubungan akan ikut terseret. Komunikasi jadi berantakan, kedekatan emosional memudar, rasa percaya perlahan hilang, sampai keintiman antar pasangan pun ikut terganggu.
Di sinilah pentingnya memahami batasan cemburu sejak awal. Jangan sampai cemburu yang berlebihan justru dianggap sebagai bukti cinta yang besar, padahal itu tanda bahaya yang perlu segera dibicarakan, atau bahkan dicari bantuan profesional kalau sudah mengarah ke pola yang mengontrol dan merugikan salah satu pihak.
Tag Terkait