Gempa NTT Renggut 70 Nyawa, Pemerintah Tolak Bantuan Luar Negeri
LambeTurahNews - Bayangkan sebuah negara yang baru saja diguncang gempa magnitudo 7, korban jiwa terus bertambah, kerusakan meluas ke pelosok, tapi pemerintahnya justru menolak uluran tangan dari luar negeri. Itulah yang sedang terjadi di NTT sekarang.
Angka Korban Terus Diperbarui, Sikap Pemerintah Tetap Sama
Data terbaru per Selasa (18/8/2026) mencatat 70 orang meninggal dunia dan 132 lainnya luka-luka akibat gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026). Meski skala kerusakan terus meluas, pemerintah pusat memilih sikap yang cukup mengejutkan banyak pihak, menolak tawaran bantuan dari negara lain.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan negara punya cukup sumber daya untuk menangani sendiri proses pemulihan. "Belum, ya," katanya singkat saat ditanya soal kemungkinan membuka bantuan asing, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Menurut Prasetyo, laporan harian dari lapangan terus mengalir ke Istana Negara, dan datanya cukup meyakinkan pemerintah untuk tetap menangani krisis secara internal.
"Nanti kita lihat, karena berdasarkan laporan harian yang kami terima dari teman-teman yang memonitor di lapangan, semua masih bisa kita tangani dengan baik," ujarnya.
Dari Hunian Sementara Sampai Rumah Sakit Darurat
Pemerintah juga menjamin ketersediaan logistik serta rencana pembangunan hunian sementara atau huntara, hingga hunian tetap atau huntap bagi warga terdampak. Tim di lapangan disebut sudah bergerak menembus daerah pelosok untuk mendata kerusakan infrastruktur fisik secara menyeluruh.
"Baik kebutuhan logistik, pengungsian, bahkan rencana perbaikan huntara maupun huntap sudah dalam proses identifikasi," tambah Prasetyo.
Yang menarik, satu kabar baik justru datang di tengah situasi berat ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, per 17 Agustus 2026, daftar orang hilang sudah kosong sama sekali.
Tim SAR Tetap Siaga Meski Tak Ada Lagi Laporan Hilang
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa meski tidak ada lagi laporan orang hilang, tim Basarnas tetap ditempatkan siaga penuh di tujuh kabupaten terdampak.
"Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. Namun demikian, tim Basarnas tetap melakukan upaya pencarian dan menerjunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak," papar Berton dalam konferensi pers, Senin (17/8/2026).
Kalau dipikir-pikir, keputusan mempertahankan status siaga meski tak ada laporan hilang menunjukkan satu hal, pemerintah tidak ingin lengah di tengah medan yang masih rawan gempa susulan maupun longsor.
Rumah Sakit Lumpuh, Solusi Darurat Disiapkan
Di balik semua data itu, ada satu masalah yang cukup serius, fasilitas kesehatan ikut lumpuh akibat gempa. Banyak gedung rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak tidak lagi bisa berfungsi normal.
Menjawab kondisi ini, Kementerian Kesehatan bergerak cepat dengan mendirikan dua unit rumah sakit lapangan, masing-masing di Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan di Kabupaten Nagekeo.
"Diharapkan rumah sakit ini dapat segera melayani warga yang menjadi korban gempa bumi dan membutuhkan evakuasi," pungkas Berton.
Sikap pemerintah yang memilih menangani krisis ini secara mandiri tentu akan terus diuji, terutama ketika kebutuhan logistik dan hunian bagi ribuan warga terdampak mulai memasuki fase jangka panjang.